Ahlan Wa Sahlan di Blog Kelompok Kerja Penyuluh (POKJALUH) Kankemenag Kab. Pekalongan

Jumat, 04 November 2011

Khutbah Jum'at Bulan Dzul Hijjah 1432 H.


MEMETIK HIKMAH DARI PERISTIWA HAJI

Oleh :  Abdul Manan, S.Ag
(Penyuluh Agama Fungsional KUA Kec. Wonokerto)
اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، اَلّلهُمّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمّد كَمَا صَلَيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إْبرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا إْبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى سَيِّدِنَا إْبرَاهِيْمَ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمّا بَعْدُ: فَيَااَيُّهَاالْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ : اُوصِيْكُمْ عِبَادَاللهِ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ, اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Jum’at Rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, melalui mimbar khotbah yang penuh berkah ini, saya ingin mengajak hadirin sekalian, terutama pribadi saya untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah Swt. Dan selalu meningkatkan ketaqwaan itu dengan menambah ketaatan kita dalam menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada kita yang tak terhitung banyaknya. Semoga kita termasuk golongan hamba-hambaNya yang pandai mensyukuri nikmat-nikmatNya, selamat dan bahagia di dunia akhirat, Amiin.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,  
Kita telah berada dalam bulan Dzulhijjah  atau bulan Haji, bulan yang suci dan mulia karena dalam bulan ini umat Islam sedunia yang mampu menunaikan ibadah Haji berkumpul di tanah suci, memenuhi panggilan Ilahi, berhaji di Baitul Haram. Pada saat -saat seperti ini, jutaan umat Islam berkumpul disekitar Baitullah mereka menyambut seruan Allah dengan ungkapan dan kalimat padat yang sakral. Gema talbiyah, memadati setiap cela kehidupan, membuat suasana semakin hidmat dan sakral.
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ, وَالنّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ.
Artinya: “Kami sambut seruan-Mu ya Allah, kami datang menunaikan panggilan-Mu, kami datang kehadirat-Mu tiada sekutu bagi-Mu ya Allah”.
Para jamaah haji itu, dengan tekad yang bulat dan tulus ikhlas pergi meninggalkan tanah airnya, meski harus menyeberang lautan luas menuju Baitullah semata-mata mewujudkan rasa rindu, ingin bertemu dengan sentuhan kasih sayang dan Rahmat Allah yang tidak pernah mereka rasakan tanpa meninggalkan negeri tercinta. Kita yang berada di tanah air, saat bangun malam melakukan shalat tahajud masih sulit merasakan hadir dihadapan Allah SWT, akan tetapi mereka yang menyaksikan Ka’bah Baitullah luluhkan kalbunya, sambil mengucapkan:
أللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَاجْعَلْ مَنْ حَجَّهُ اَوِاعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَمَهَابَةً وَبِرًّا.
Artinya : Ya Allah, jadikanlah Baitullah ini sebagai tempat untuk memuliakan-Mu, mengagungkan-Mu dan menimbulkan rasa haru serta jadikanlah orang yang haji atau umrah ke tempat ini menjadi mulia, terhormat dan baik”.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,  
Alangkah banyaknya orang yang merindukan untuk memenuhi panggilan Allah, pergi haji ke Baitullah, akan tetapi tidak mampu melahirkan kerinduannya, disebabkan beberapa hal. Maka bersyukurlah bagi mereka yang dapat memenuhi panggilan itu. Di Baitullah itu seorang muslim dapat menanggalkan segala identitas diri. Bahkan pakaian indahnya yang disukai pun harus ditanggalkan dan berganti dengan dua helai kain ihram yang serba putih.
Kepuasan melepas rindu kepada Allah Swt. tidak akan mungkin terbeli oleh harta kekayaan, oleh karena itu, kiranya tidak seorangpun dari kaum muslimin yang melakukan ibadah haji merasa cukup sekali dalam seumur hidupnya. Kenikmatan beribadah di Baitullah memberi kepuasan tersendiri, yang menuntut pengulangan dalam upaya melepas rindunya kepada Allah Swt. Ibadah haji merupakan pernyataan hamba Allah yang terpanggil seruan nabiyullah Ibrahim A.s. diperintah Allah Swt. :
27. dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,  (QS. Al Hajj:27).

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,  
Kiranya tak seorangpun dikalangan umat yang mengabaikan seruan itu, mereka serentak menyambut panggilan Allah dengan nada halus yang meresap kedalam sanubari dilukiskan dalam hadits qudsi bahwa Allah Swt. berfirman kepada malaikat :
اُنْظُرُوْا إِلَى عِبَادِيْ جَائُوْا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ شَعْثًا غَبْراً إِشْهَدُوْا أَنِّى غَفَرْتُ لَهُمْ.
Artinya : Pandanglah hamba-hambaKu, mereka datang berduyun-duyun dari berbagai penjuru dan pedalaman dalam keadaan kusut masal, berdebu dan berpencar, jadikanlah kalian saksi bahwa aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,  
Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dalam aktivitas ritual selama berhaji. Disamping menapak tilas sejarah untuk mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu yang telah dialami oleh hamba-hamba yang shaleh.
Sejak dimulainya ihram, segenap umat manusia diwajibkan mengenakan pakaian ihram tanpa kecuali, berkumpul ditanah haram untuk memenuhi panggilan Allah Swt. Disana semua manusia memiliki kewajiban yang sama, melaksanakan rukun-rukun haji menghadap Allah, tanpa membedakan suku bangsa, etnis, warna kulit, status sosial, kaya dan miskin. Disana sangat terasa bahwa pada dasarnya semua manusia adalah sama dihadapan Allah Swt.
Peristiwa wukuf di Arafah, mengajarkan bahwa kelak dihari kiamat segenap umat manusia berkumpul dipadang mahsyar, mengingatkan mereka bahwa peristiwa yang sedang mereka alami didunia, kelak akan terulang lagi dipadang mahsyar, dimana setiap umat manusia akan mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya semasa hidup didunia.
Dalam ibadah thawaf, semua umat manusia mengelilingi baitullah yang merupakan rumah ibadah pertama kali yang dibangun sebagai pusat ibadah umat manusia. Sejak umat terdahulu sampai nabi Muhammad Saw. Semuanya melaksanakan syari’at thawaf yang sama, ini mengajarkan kepada umat manusia diajak untuk menyembah Allah Swt. Allah Swt. Berfirman :
  
96. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
97. padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Didalam pelaksanaan ritual ibadah haji itu, akan kita saksikan bukti-bukti sejarah yang sangat berarti, dengan hadir dan menyaksikan langsung kondisi tanah haram, kita diingatkan akan perjuangan rasulullah Saw. Dimana beliau diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Rasulullah Saw. yang mengemban risalah terakhir mengajarkan agama tauhid (Islam) dengan misi rahmatan lil ‘alamin.
Beliau dilahirkan ditengah kondisi alam yang tandus, padang pasir dan bebatuan dengan kondisi masyarakat yang rendah peradaban dan moralnya, namun berkat pertolongan Allah Swt serta kegigihan dan keuletan beliau akhirnya keberhasilan dapat diperoleh dalam waktu yang cukup singkat, bahkan berlanjut sampai pada zaman modern ini. Berkat perjuangan beliau, negeri itu berubah menjadi negeri yang sangat makmur aman sentosa. Maka umat Islam akan timbul untuk dapat kembali ke tanah suci.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,  
Untuk itu, mudah-mudahan kita semua segera mendapat panggilan Allah Swt untuk melaksanakan ibadah haji, sebagaimana dijanjikan, bahwa balasan haji mabrur adalah surga diakhirat kelak. Sebagaimana keterangan hadist nabi :

وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّة. (رواه الترمذى)
Artinya : “Tiada pahala sebagai balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga (HR. Turmudzi)”.

بَارَكَ اللهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِىْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم, وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَا السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُالله الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, إَنَّهُ هُوَاالْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Tidak ada komentar: